Make your own free website on Tripod.com
 
 

 
Info
intro

 

Perang Taif

PERANG THAIF
PELARIAN TSAQIF. 
Beberapa golongan yang berhasil melarikan diri dari perang Tsaqif menuju ke Thaif, di mana mereka membangun benteng, menutup kota Thaif dari semua penjuru, mereka kumpulkan segala macam keperluan dan bahan didalamnya yang cukup untuk masa satu tahun, lalu mereka bersiap untuk berperang lagi. 

Rasulullah saw bergerak menuju Thaif, berhenti dekat Thaif dengan pasukan beliau. Pasukan Rasulullah saw mencuba memasuki kota Thaif tetapi tidak sanggup kerana langsung mendapat serangan panah yang hebat dari penduduk Tsaqif. Mereka memang terkenal satu ahli panah dan berani. 

MENGEPUNG THAIF. 
Rasulullah saw memindahkan kedudukan pasukan beliau ke tempat lain, langsung mengepung Thaif selama 20 malam atau lebih dari serangan yang hebat. Anak panah kedua pasukan saling berdengung di udara menuju sasaran masing-masing. Buat pertama kali Rasulullah saw menggunakan alat manjanik (alat untuk melemparkan batu atau benda keras dalam perang) Petempuran semakin menghebat sehingga banyak diantara kaum Muslimin terbunuh kerana anak panah. 

RAHMAT DI MEDAN PERANG
Setelah kepungan diperketatkan dan perang masih makan waktu yang lama, Rasulullah saw lalu memerintahkan memotongi pohon anggur bangsa Tsaqif, sedangkan penghidupan mereka bergantung pada hasil perkebunan anggur itu. Orang ramai terpaksa memotongnya dengan perasaan berat, lalu mereka mohon kepada Rasulullah saw agar pohon-pohon itu dibiarkan untuk Allah dan rahmat. Maka Rasulullah saw menjawab dengan berkata, "Saya membiarkan pohon-pohon itu untuk Allah dan rahmat." 

 Seorang penyeru diperintahkan Rasulullah saw untuk berseru bahawa barang siapa yang takut bertahan dalam benteng lalu keluar maka ia akan bebas. Mendengar seruan itu, maka keluarlah beberapa belas orang lelaki, di antaranya Abu Bikrah. Mereka semuanya dibebaskan oleh Rasulullah saw dan dijamin segala keperluan hidupnya kepada Muslimin yang mampu. 

Sikap Rasulullah saw benar-benar berhasil dapat melemahkan perlawanan penduduk Thaif yang masih bertahan (melawan). 

KEPUNGAN DIHENTIKAN. 

Rasulullah saw tidak mengizinkan untuk merebut Thaif. Umar bin Khattab ra diperintahkan untuk memaklumkan agar pasukan meninggalkan tempat pengepungan, atau mundur. Perintah ini menimbulkan rasa terkejut pada pasukan Islam. Mereka berkata, "Apakah kita akan meninggalkan tempat ini, sedang kota Thaif belum kita rebut?" Mendengar suara itu, Rasulullah saw mengubah keputusannya, lalu memerintahkan agar serbuan diteruskan. Dalam petempuran ini banyak kaum Muslimin mendapat cedera. Rasulullah saw berkata kepada mereka, "Kita akan mengakhiri petempuran ini besok pagi insya Allah." Mendengar ucapan Rasulullah saw yang demikian itu semua orang menjadi gembira, mereka mempersiapkan unta untuk berangkat pulang, lalu berangkat bersama Rasulullah saw sedang Rasulullah saw sendiri ketawa. 

TAWANAN PERANG HUNAIN DAN RAMPASANNYA

Rasulullah saw berhenti di Ja'ranah bersama pasukannya untuk mengurusi tawanan dan rampasan perang Hawazin. Rasulullah saw tidak terburu-buru mengurusnya, sekalipun banyak kaum Muslimin sudah berdatangan. Ada belasan malam lamanya mengurus semua itu. 

Rasulullah saw mulai mengurus harta rampasan dan membahagi-bahagi harta itu. Yang pertama-tama mendapatkan pembahagian ialah orang-orang yang masih muallaf (yang baru saja masuk agama Islam). Di antaranya ialah Abu Sufyan Bin Harab dan kedua anaknya, Yazid dan Muawiyyah. Juga diberikan Hakiim Bin Hazzaam, An-Nadlar Bin Al-Haarist, Al-'Ullaa' Bin Al- Haaritsah dan lain-lain semuanya tergolong orang-orang penting Quraisy. Mereka lebih diutamakan dan dibanyakkan pembahagiannya. Kemudian dibagi rata kepada yang lain-lain. 

MENCINTAI ANSHAR DAN PENGORBANAN MEREKA

Kerana yang dipentingkan dan dibanyakkan dalam pembahagiaan itu ialah terhadap suku Quraisy dan orang-orang muallaf yang baru saja memeluk agama Islam, sedang golongan Anshar hanya mendapat pembahagian yang amat kecil (sedikit sekali) maka terdengarlah omelan pemuda-pemuda Anshar. Setelah mendengar omelan itu, Rasulullah saw mengucapkan pidato yang agung yang menitiskan air mata mereka, sehingga golongan Anshar menitiskan air mata mereka, rasa cinta dan kasih mereka terhadap Rasulullah saw semakin mendalam. Di antara yang diucapkan Rasulullah saw dalam khutbah beliau yang agung itu ialah, "Bukankah saya datangi kamu masih sesat, lalu Allah memberi petunjuk kepadamu dengan perantaraanku, kamu masih melarat, lalu Allah kayakan kamu dengan perantaraanku, kamu hidup saling bermusuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kamu sehingga kamu sehingga kamu hidup saling mencintai (bersaudara)?" Mendengar ucapan Rasulullah saw itu mereka serentak menjawab, "Sungguh Allah dan Rasul-Nya lebih tersayang dan berkebajikan." 

Setelah mereka diam, Rasulullah saw berkata, "kenapa kamu tidak menjawab wahai kaum Anshar?" mereka serentak menjawab, "Apakah lagi yang dapat kami jawabkan kepada engkau ya Rasulullah? Bagi Allah dan Rasul-Nya-lah segala rasa kasih sayang dan kemuliaan." 
Berkata Rasullah saw, "Sungguh demi Allah, sekiranya kamu mengatakan kepadaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan dibohongi oleh kaummu (Quraisy), maka kamilah yang membenarkan ajaranmu, engkau datang dalam keadaan lemah, maka kamilah yang menolongmu, engkau datang terusir, kamilah yang memberi tempat kepadamu, engkau datang dalam keadaan melarat, kamilah yang melengkapi segala keperluan hidupmu,maka semua yang kamu ucapkan itu adalah benar, aku tetap membenarkan akan ucapan kamu itu." 
 

Kemudian dengan ucapan yang diucapkan dengan penuh perasaan, mengandung ketetapan hati, pengarahan, beliau terangkanlah apa hikmatnya beliau membagi-bagi harta rampasan perang itu tidak dengan sama banyak. Berkata Rasulullah saw, "Apakah ada dalam hatimu masing-masing wahai kaum Anshar perasaan mementingkan dunia terhadap diriku, bila aku dalam pembahagian ini mementingkan orang-orang muallaf agar kuat keislaman mereka, dan saya menganggap bahawa kamu sudah cukup dengan Islammu sahaja?" 

 Akhirnya Rasulullah saw mengucapkan satu kalimah yang beliau tidak kuat menahan diri dari mengucapkannya, satu kalimah yang menyempurnakan keimanan dan memerkahkan kembangnya dan memerkahkan kembangnya di hati masing-masing mereka. Berkata Rasulullah saw, "Tidakkah kamu puas (lega)ya kaum Anshar bila mereka pulang ke Mekkah membawa kambing, unta dan harta, sedang kamu pulang kemadinah dengan membawa Rasulullah saw? Demi Yang Memegang jiwa Muhammad dengan Tangan-Nya, apa yang kamu bawa pulang lebih baik dari apa yang mereka bawa pulang. Kalau tidaklah kerana hijrah, aku akan menamakan diriku golongan Anshar. Bila manusia berjalan menempuh satu jalan dan wadi, sedang orang Anshar juga berjalan menempuh satu jurusan dan wadi, aku pasti menempuh jurusan dan wadi yang ditempuhi orang Anshar. Al-Anshar adalah syiar (selimut). Ya Allah, cintailah Anshar, dan anak-anak orang Anshar dan anak-anak dari dari anak-anak orang Anshar." 

Mendengar ucapan Rasulullah saw yang terakhir ini, semua orang Anshar tidak dapat menahan tangis mereka, mereka sama menguraikan air mata, lalu berkata serentak, "Kami redha dengan Rasulullah saw dengan pembagian dan apa yang ia lakukan. 

SEMUA TAWANAN DIKEMBALIKAN KE HAWAZIN
Datang perutusan Hawazin kepada Rasulullah saw terdiri atas 14 orang lelaki dan meminta agar semua tawanan dan harta rampasan dikembalikan kepada mereka. Maka berkata Rasulullah saw, "Yang ada beserta saya apa yang kamu lihat, perkataan yang paling aku senangi ialah yang lebih benar, mana yag lebih kamu senangi, isteri-isteri dan anak-anakmu atau harta bendamu?, " Mereka menjawab, "Anak-anak dan isteri-isteri tidak dapat kami samakan dengan satu yang lain apapun." 

Mendengar ucapan mereka itu, Rasulullah saw berkata kepada mereka, "Bila aku selesai mengerjakan solat pagi, hendaklah kamu berkata, "Kami minta bantuan Rasulullah saw kepada orang-orang beriman dan kami minta bantuan orang-orang beriman kepada Rasulullah saw agar dapat dikembalikan kepada kami akan orang kami yang tertawan." Setelah Rasulullah saw selesai mengerjakan solat pagi, mereka semua berdiri dihadapan Rasulullah saw dan berkata sebagai mana yang telah ditunjukkan itu. Kemudian Rasulullah saw berkata kepada mereka, "Semua tawanan yang telah diperuntukkan bagiku dan keluarga Bani Abdul Muthalib kami kembalikan kepada kamu, dan saya akan minta orang lain juga berlaku demikian." 

 Setelah mendengar ucapan Rasulullah saw yang demikian itu, maka seluruh Muhajirin dan Anshar berkata, "Semua tawanan yang sudan diperuntukkan bagi kami, kami serahkan kepada Rasulullah saw." 
 Ada tiga orang yang enggan menyerahkan tawanan yang sudah diperuntukkan bagi masing-masing mereka, iaitu dari Bani Tamiim, Bani Fazaarah dan Bani Sulaim. Lalu Rasulullah saw berkata kepada mereka, "Mereka datang sebagai orang yang sudah masuk Islam (Muslimin), saya sudah santuni mereka dan suruh pilih anak isteri atau harta, mereka tidak dapat mengganti anak isteri mereka dengan apa jua pun. Maka barang siapa yang telah kebagian, hendaklah mengembalikan tawanan itu kepada mereka, maka demikian itulah yang baik, tetapi siapa yang masih ingin menahan haknya, maka hendaklah dikembalikan kepada mereka dan baginya akan mendapatkan enam kali tebusan, dimulai sejak ia mendapatkan pampasan." 

Maka berkata orang banyak, "Kami setuju dengan keputusan Rasulullah saw." Lalu berkata Rasulullah saw, "Kami tidak tahu siapa yang redha antara kamu dan siapa yang tidak redha, maka kembalilah kamu, sampai datang menyampaikan kepada kami akan urusan kamu dengan perantaraan orang-orang mengetahui akan keadaan masing-masing kamu." Akhirnya seluruh mereka menyerahkan semua anak-anak dan isteri-isteri yang tertawan itu kepada suami dan orang tua mereka masing-masing. Tidak seorang pun yang menahannya. Rasulullah saw. Lalu memakai masing-masing tawanan itu dengan pakaian katun qibthiyyah. 

KEHALUSAN DAN KEPEMURAHAN

Diantara tawanan yang telah mereka serahkan kepada Rasulullah saw ialah Asy-Syimaa' Binti Halimah As-Saadiah, saudara perempuan susuan dengan Rasulullah saw sendiri. Pernah Ash-Syimaa' ini diperlakukan secara kasar di pasar kerana tidak mengetahui siapa yang sebenarnya ia, lalu Ash-Syimaa' berkata kepada mereka, "Tahukah kamu, demi Allah saya ini adalah perempuan sesusuan dari sahabatmu (Muhammad). Orang banyak mulanya tidak membenarkan omongannya, sampai mereka membawanya kehadapan Rasulullah saw sendiri. Setelah Asy -Syimaa' bertemu dengan Rasulullah saw, langsung dia berkata, "Ya Rasulullah, saya ini adalah saudaramu perempuan sesusuan." Berkata Rasulullah saw, "Adakah tandanya?" Berkata Asy-Syimaa' "Ada, iaitu bekas gigitan gigimu di punggungku, iaitu disaat aku menggendongmu dipunggungku." 

Setelah Rasulullah saw menyaksikan sendiri tanda tersebut, beliau membentangkan akan selendang beliau di atas tanah untuk diduduki oleh Asy-Syimaa' sebagai perlakuan istomewa baginya, lalu berkata kepadanya, "Bila engkau suka, maka tinggallah bersamaku sebagai orang yang dicintai dan dimuliakan, tetapi jika engkau lebih suka kembali kepada kaum engkau, saya akan hiburkan engkau (dengan hadiah-hadian)." Asy-Syimaa' menjawab, "Hiburkanlah saya dan kembalikanlah saya kepada kaumku." 

Rasulullah saw menghiburkannya dengan berbagai hadiah, dan disaat itulah Asy-Syimaa' menyatakan keislamannya. Rasulullah saw memberikannya 3 orang budak lelaki dan seorang budak wanita, hadiah-hadiah dan beberapa ekor kambing. 

UMRAH JA'RANAH. 
Setelah Rasulullah saw selesai dengan semua urusan perang Hunain, iaitu membagi-bagi tawanan dan rampasan perang di Ja'narah, iaitu sebuah kampung jarak satu marhalah dari Mekkah, dan Ja'ranah itulah miqat (tempat di mana semua orang yang Umrah dan haji harus mengenakan pakaian ihram, atau boleh dikatakan batas tanah haram) bagi penduduk Thaif, lalu Rasulullah saw memakai pakaian ihram untuk mengerjakan ibadat Umrah. Sesudah berumrah beliau kembali ke Madinah. Dan itu adalah pada bulan Dzul Qaidah tahun 8 Hijriyah. 

THAI'UUN IA KAARIHUUN (DENGAN PENUH KETAATAN BUKAN TERPAKSA). 
Ketika kaum Muslimin berangkat meninggalkan Thaif menuju Madinah, Rasulullah saw berkata kepada mereka: 
Ertinya: "Ucapkanlah: Kami kembali, bertaubat, beribadat menyembah Tuhan kami dan memuji." 

Ada yang berkata, "Hai RAsulullah saw, doakanlah kepada Allah atas Thaif." Rasulullah saw lalu berdoa: 
Ertinya: "Ya Allah, tunjukilah Tsaqif dan datangkalah mereka. Tiba-tiba datang menyusul 'Urwah Bin Mas'uud Ats-Tsaqafy, lalu menemui Rasulullah saw sebelum memasuki kota Madinah. Dan di saat itulah ia masuk Islam. 'Urwah ini adalah seorang yang di cintai oleh penduduk Tsaqif, mempunyai kedudukan dikalangan mereka. Tetapi ketika ia datang menyeru kaumnya untuk menganut Islam, dan menyatakan kepada mereka bahawa dia sendiri telah masuk agama Islam,mereka langsung memanahnya dengan anak panah, sehingga ia terbunuh sebagai seorang Syahid. 

Tsaqif di biarkan berapa bulan lamanya sesudah terbunuhnya 'Urwah Bin Mas'uud Ats-Tsaqafy, kemudian mereka berebut dan memutuskan bahawa mereka tidak akan mampu memerangi bangsa Arab sekitar mereka yang telah masuk agama Islam dan beribadat. Mereka lalu memutuskan akan mengirim utusan untuk menemui Rasulullah saw di Madinah. 

TIDAK ADA KOMPROMI DENGAN KEBERHALAAN
Mereka bersama-sama mendatangi Rasulullah saw. Untuk mereka dibangunkan sebuah kubbah di dekat masjid untuk tempat mereka. Lalu mereka semuanya menyatakan masuk Islam. Mereka minta kepada Rasulullah saw agar bagi mereka di biarkan patung Al-Laata selama 3 tahun jangan diruntuhkan. Permintaan ini di tolak oleh Rasulullah saw. Lalu mereka minta agar dibiarkan selama satu tahun saja. Ini pun di tolak oleh Rasulullah saw. Akhirnya mereka minta agar dibiarkan satu bulah saja. Namun Rasulullah saw tetap menolaknya, bahkan langsung Rasulullah saw memerintahkan kepada Abu Sufyan Bin Harb dan Al-Mughirah Bin Sya'bah, keduanya termasuk kaum mereka sendiri, untuk meruntuhkan Al-Laata tersebut. Kemudian mereka minta diizinkan tidak mengerjakan solat. Maka berkata Rasulullah saw: 
Ertinya: "Tidak ada kebaikan beragama tanpa mengerjakan solat." 

Akhirnya mereka kembali ke kampung halaman mereka yang disertai oleh Abu Sufyan Bin Harb dan Al-Mughirah Bin Sya'bah. Al-Mughirah langsung meruntuhkan Al-Laata. Akhirnya Islam tersebar di seluruh Thaif. Seluruh penduduk Thaif masuk Islam. 

KA'AB BIN ZUHAIR MASUK ISLAM. 
Ka'ab Bin Zuhair, seorang penyair anak penyair yang sering mencaci Rasulullah saw dengan syairnya, merasa bahawa dunia ini menjadi sempit baginya. Bahkan dirinya sendiri menjadi sempit pula. Saudaranya bernama Bujair menyusulkan kepadanya agar dia mendatangi Rasulullah saw untuk bertaubat dan menyatakan diri masuk Islam. Diterangkan akan bahaya yang dihadapinya bila usulnya ini tidak dilaksanakan. Ia mencipta satu qasidah (kata bersajak) memuji Rasulullah saw. Qasidah ini menjadi popular dengan nama: "Qasidah Baanat Su'aadu." 

Akhirnya ia berangkat ke Madinah, pagi-pagi menemui Rasulullah saw di kala Rasulullah saw mengerjakan solat subuh, lalu duduk dihadapan beliau dengan meletakkan tangannya diatas tangan Rasulullah saw. Rasulullah saw tidak mengenalnya. Lalu ia berkata kepada Rasulullah saw, "Sungguh Ka'ab Bin Zuhair datang mohon perlindungan dengan bertaubat dan menyatakan dirinya masuk Islam, maka dapatkah engkau menerimanya?" Seorang penduduk Anshar meloncat dan berkata, "Ya Rasulullah saw izinkan saya berduel dengan musuh Allah ini, biar aku pukul kuduknya." Rasulullah saw berkata, "Biarkan dia, dia datang bertaubat membersihkan dirinya." Ka'ab langsung membacakan qasidahnya, yang awalnya: 

Membayangkan bagaimana sedihnya ditinggalkan kekasih. Disambungnya dengan sebuah syair memuji Rasulullah saw: 
Ertinya: "Sungguh Rasul itu sinar yang terang cemerlang, juga sebagai salah satu pedang Allah yang terhunus." 

Maka Rasulullah saw membuka selendang beliau menyerahkannya kepada Ka'ab tanda penghargaan beliau.